Malam Ini, Hujan Turun Lagi

Rintik Hujan

Rintik demi rintik air hujan menghujam diatap rumahku. Malam ini hujan turun lagi. Aku menatap rintik hujan yang turun dibalik kaca jendela ruang tamu. Sudah tiga malam berturut –turut Kota Khatulistiwa diguyur hujan tengah malam, seakan ingin menemani dukaku.
“Sudah larut malam, kok belum tidur met? Lagi mikirkan apa?” Tanya putri sepupuku yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
“belum put, masih belum ngantuk” jawabku.
“gak biasanya.sudah tiga malam ini aku liat kamu menyendiri sampai larut malam di ruang tamu” Tanya putri.
“ lagi ingin menyendiri aja” ucapku pendek.
“lagi mikirin kejadian kemarin ya? Sudahlah. Butuh waktu bagi ibumu untuk menerima perbedaan diantara kalian. Apalagi kamu tau latar belakang pendidikan ibumu. Bagiku saja yang sudah berpendidikan, aku masih belum bisa menerima orang yang berbeda agama untuk menjadi pasangan hidup kita.” Ucap putri seakan memahami gejolak perasaan yang sedang aku alami. Aku hanya terdiam mendengar ucapan putri.

Tiga hari yang lalu aku mengajak Angelica mampir kerumahku seusai pulang dari beribadah di sebuah gereja di Pancasila.  Siang itu, ibu sedang masak didapur ketika aku dan angelica sampai dirumah. Aku menghampirinya dan memperkenalkan angelica pada ibu. Ibuku tampak senang dan terlihat akrab dengannya. Bahkan sesekali mereka terdengar tawa saat aku tinggalkan angelica di dapur membantu ibu memasak.
Malam harinya setelah selesai makan malam,  ibu menghampiriku di ruang tamu saat aku sedang menikmati teh hangat.
“tadi pagi itu temenmu atau pacarmu met?” Tanya ibu seraya duduk disampingku.
“memangnya kenapa bu? Dia baik kan?” aku balik bertanya pada ibu
“Iya, tapi itu pacarmu atau teman mu? Tadi pagi dia berbicara  banyak hal mengenai kegiatan kalian di kampus sampai dengan kedekatan kalian berdua. Lalu tanpa sengaja aku melihat kalung yang melingkar dilehernya. Ternyata angelica bukanlah orang yang seiman dengan kita. Aku gak keberatan kalau kamu mau berteman dengan siapa saja. Tapi ibu gak setuju kalau kamu punya pacar yang tidak seiman dengan kita. Jadi, sebelum semuanya terlanjur lebih jauh. Aku harap kalian hanya sebatas teman saja. Ibu keberatan kalau kamu pacaran dengannya. Apalagi kalau kamu ingin menikah dengan orang yang tidak seiman dengan mu. Ibu tidak ridho”. Ucap ibu dengan intonasi kalimat terakhir sedikit meninggi seraya beranjak dari sampingku.
Mendengar penjelasan ibu, aku hanya duduk terdiam tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Secangkir teh hangat yang aku minum terasa dingin, sedingin air teh yang sudah ditaruh didalam freezer. sekujur tubuhku berubah menjadi sejuk, sesejuk udara malam dikala turun hujan. Dadaku terasa sesak, tanpa bisa dibendung airmataku berjatuhan dan rintik hujan yang turun membuat airmataku semakin deras.
Hujan mulai reda. Tangisku sudah habis, hanya sesengukan saja. Kututup pintu rumahku kemudian kuusap sisa air mataku.
*****
23 Desember 2006
Jalanan sangat ramai, orang-orang berlalu lalang memadati pangkalan bus Valenty di kota khatulistiwa. Angelica terlihat sibuk menatap kearah sekeliling pangkalan bus saat aku menemuinya.
“lama benar aku nunggu abang disini, bisnya sebentar lagi dah mau brangkat ni” ujar angelica
“Maaf, aku tadi masih ada kerjaan dirumah” balasku.
“Ya udah, aku mau pamit pulang kampung dulu. Aku mau merayakan Natal kali ini di kampung halamanku. Abis tahun baru aku baru balik kesini lagi.”
“ Iya, salam untuk keluargamu disana” ucapku.
“oke, salam juga untuk ibu dirumah. Ntar kalau aku dah kesini, aku main lagi kerumahmu” ujar angel sambil  buru-buru masuk kedalam bis.
Aku hanya mengangguk tanpa sempat bercerita apa yang sebetulnya terjadi dengan ku. Pintu bis berdesis ditutup. Aku berdiri melambai ke Angel, sampai lambaian tanganya mengecil dan mengecil, menjadi satu titik yang kemudian menghilang dari pandanganku.
Pukul 21.16
Malam ini hujan turun lagi. aku menatap rintik hujan dari balik jendela kamarku. perasaanku mulai resah, dari tadi pagi masih belum ada kabar; apakah angelica sudah sampai belum?
Tets,.. ada bunyi halus dari ringtone hp ku . sebuah pesan singkat muncul berkedip di layar handphone. My Love.
“ bang aku sudah sampai dirumah tadi jam 17.30”
Jariku cepat me-repley.
“ syukurlah kalo gitu, abang sempat gelisah karena belum ada kabar dari mu”
Diam sejenak. Sebuah pesan muncul lagi
“maaf, tadi keasyikan ngobrol dengan ibu. Ibu tertawa saat aku cerita kalau abang sering nunggu di pagar saat mengantarkan aku ibadah ke gereja tiap minggu. Salam dari ibu.”
Membaca pesan singkatnya aku tersenyum seraya merebahkan kepala ku ke tempat tidur. Aku tahu kita tak mungkin hidup bersama, aku tahu kita berbeda namun apa salah jika aku membayangkan sebuah kisah bahagia denganmu…

Comments

Popular Posts