Kereta Angin Merah Tua


Sinar mentari pagi menerabas masuk melalui celah jendela kamarku,  membuatku terbangun dari tidur pulasku. Pagi itu aku terlelap diatas sajadah seusai sholat subuh. Rasa lelah setelah bekerja  sampai larut malam, rupanya membuat aku tidak mampu menahan rasa kantuk. Hingga aku tertidur kembali setelah sholat. Aku membereskan tempat tidur dan bergegas untuk mencuci muka di gentong samping rumah. 
Tiba- tiba aku terperangah melihat kereta angin merah tua ibu masih terparkir di samping rumah. As tengahnya terlihat patah terbelah menjadi dua, sedangkan bagian lainnya masih utuh.
“ada apa dengan sepeda ibu? Apa ibu mengalami kecelakaan? Tapi kok dia gak ada cerita sama aku” pikirku sambil memelototi kereta anginnya.
“ sepeda ibumu patah met, besi penyangga tengahnya keropos, jadi terbelah jadi dua.” Ucap Putri, sepupuku yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku.
“o,. kirain kenapa, kok bisa patah jadi dua bagian” balasku dengan mata tercenung melihat sepeda ibu.
“ ya itu kan sepeda zaman jepang, udah tua usianya. Sudah waktunya rusak” imbuh Putri. Sementara aku masih tercenung mengingat kenangan kereta angin merah tua.

Kereta angin merah tua ini empat tahun yang lalu aku beli dari bibi kostku di Kampung Dalam Bugis,. dengan menyisihkan uang dari honorku mengajar ditempat kursus bahasa Inggris. Aku beli dari bibi  dengan di cicil selama 3 bulan . saat itu kuliahku baru masuk di tahun kedua. Aku merasa gak tega dengan ibu yang selalu berjalan kaki ketempat kerjanya.
Saat itu Ibu sangat bahagia melihat aku datang membawa kereta angin merah tua  sepulang kuliah.
“wah, meski bukan sepeda baru tapi ini phoenix yang lama. Pasti mahal ya??? Ujar ibu dengan wajah sumbringah. Sementara aku tersenyum malu karena belum bisa membelikan sepeda baru untuknya.
“Maaf bu, gak sesuai dengan janjinya.” Ucapku pendek
“Gak masalah, justru aku bangga padamu. Bukan persoalan baru atau tidaknya. Tapi kamu sudah memenuhi separuh janjimu.” Ujar Ibu dengan lembut.
Dua tahun sebelumnya ibu sangat marah padaku karena aku ngotot ingin kuliah,  memutuskan untuk berhenti bekerja menjadi tukang sapu di terminal Kampung Bali. Kemarahan ibu bukannya tanpa alasan, selain karena ibu tidak mampu untuk membayar uang masuk kuliah, ibu juga masih sering berhutang untuk kebutuhan makan sehari- hari.
Hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk berjanji pada ibu, bahwa aku akan menanggung biaya kuliahku sendiri. Disamping itu, aku akan membelikan sepeda baru, dan membuatkan nya sebuah rumah baru sebelum aku selesai kuliah.
“kamu berhasil membayar uang kuliah mu saja itu sudah cukup, Ibu cemas nanti kamu gak sanggup untuk bayar” Ujar Ibu
“Jangan khawatir bu, setelah masuk kuliah nanti aku akan mencari pekerjaan. Aku akan gunakan waktu ku sebaik mungkin untuk kuliah sambil bekerja.” Rayaku pada Ibu. Jadi aku hanya butuh restu dan doamu yang akan menjadi bekalku setiap saat.
Dengan bekal doa setiap waktu seuasai sholat fardu itu, aku selalu berlari mengejar mimpiku, seraya berusaha sekuat tenaga untuk menepati janji yang telah aku ucapkan.



Comments

Popular Posts