PELANGI DI BUMI SERAMBI MEKKAH


Oleh : Memet Abdul Hamid

Hujan kembali mengguyur membasahi bumi Serambi Mekkah. Para peserta workshop pendidikan multikultur duduk berkerumun di loby Hotel Surya. Beberapa mahasiswa terlihat asyik mengobrol, beberapa teman ku yang dari Pontianak sibuk mencatat nomer handphone dan fanpage Facebook .

“Teman- teman sekalian, saya minta perhatiannya. Buat teman-teman Himpunan Mahasiswa Madura yang sudah check out, memohon untuk memasukkan barang- barangnya kedalam bagasi mobil. Mobilnya sudah parkir didepan pintu Hotel. Agak dipercepat waktunya karena kita akan ziarah ke Makam Sultan Muhammad Syafiuddin sebelum kita Mole (pulang) ke Pontianak. “Seru Bang Amat membuat suasana yang riuh menjadi senyap.

Satu persatu diantara mereka mengemas barang-barangnya ke dalam bagasi mobil. Dari raut wajahnya mereka sedih. Terlalu singkat rasanya pertemuan ini, bertemu dengan sahabat yang baru sehari mereka kenal sudah harus berpisah lagi. Kamipun bermitan, bersalaman dengan saling berangkulan. Rasa haru diantara mereka hingga para tamu hotel yang ada di sudut ruangan lobby ikut larut dan penuh tanya.


Akupun ikut menyalami mereka yang dari berbagai almamater ini, kuning, merah, dan hijau. Jabat tangannya begitu erat.
”sahabat, 10 tahun yang silam orang- orang tua kita telah berkonflik sehingga menimbulkan luka yang mendalam. Hari ini anak- anaknya berkumpul, berusaha merajut tali yang berserak itu. Menginaplah disini, jika pemerintah tidak menjamin rasa aman kalian. Kami semua para mahasiswa dari berbagai kampus ini yang akan menjadi jaminan kalian. “ucap salah seorang mahasiswa dari Poltek. Membuat buliran- buliran air mataku berjatuhan mendengar kata-katanya.
“Termima kasih. Hari ini kita mesti pulang kembali ke Pontianak, lain waktu semoga kita bisa berkunjung lagi ke sini. Mohon doa-nya teman- teman.” Balas Izam Sheva yang berdiri di belakangku.

            Pelan- pelan putaran roda mobil Xenia Silver membawa kami meninggalkan kerumunan mahasiswa yang mengantar kami sampai ke depan pintu gerbang Hotel, perlahan lambaian tangannya menjauh, menghilang dari kaca mobil. Perjalanan kami selanjutnya adalah ziarah ke Makam Sultan Muhammad Syafiuddin. Bang Amat mengerem Xenia Silvernya di depan pintu Makam Sang Sultan.
“Pintu pagarnya di kunci, gak ada orang sama sekali yang jaga didalam” Terang Rohaye yang keluar duluan dari mobil.
Tiba-tiba dua orang anak perempuan berlarian ke arah mobil kami. “Mau ziarah ke? Penjaganya lagi pulang kerumahnya. Tanya dua bocah itu dengan aksen  melayu yang kental.
“Iye, rumahnye, dimane? antar aku kerumahnya?” pinta Rohaye kepada kedua bocah.

Merekapun mengantar Rohaye kerumah juru kunci makam, sementara aku, Izam Sheva, Bang Amat, Jamil, Martin Gilang  dan Risty yang duduk menyandarkan kepalanya kebahuku memilih menunggu dalam mobil. Mata Risty tampak berkaca-kaca melihat kelangit.
“eh,. Lihat bang, ada Pelangi. Indah sekali kilatan warnanya, cerah lagi “ ucap Risty seraya tangannya menarik kepalaku untuk melongoh ke luar kaca mobil.
“Iya , Indah sekali. Merah, hijau, kuning, biru dan jingga. Warna pelangi melambangkan perbedaan dalam kehidupan kita.” Balasku
“Pelangi menampilkan sebuah keindahan yang luar biasa, coba kalau warnanya cuma satu, pasti tidak menarik.” Jamil menimpali
“Indahnya perbedaan diantara kita, seperti indahnya pelangi sehabis turun hujan di sore hari ini” Imbuhku.

Akupun menghayal, kalaulah perbedaan diantara kita dapat bersinergi seperti pelangi, maka kita bisa membangun menara impian bersama di sini.  Tapi sayang, perbedaan itu belum sepenuhnya bisa diterima di bumi serambi Mekkah ini. Tadi, anak-anak mudanya di bumi yang aku pijak ini telah berkumpul bersama. Bersatu dalam sebuah perbedaan. Semoga dari mereka jalinan perdamaian bersemi kembali. Di saat para orang tua mereka sudah mulai pesimis dan mulai acuh.
“Lama banget Rohaye, coba di susul takut terjadi apa- apa.” Ucap Izam dengan cemas membuyarkan khayalanku.
“Gak usah khawatir, Rohaye lancar berbicara dengan dialek sini. Jadi gak ketahuan kalo dia suku kita” balas Bang Amat mencoba menenangkan suasana.

Tak lama berselang, Rohaye pun muncul bersama sang Juru Kunci Makam di iringi dengan kedua bocah perempuan yang tadi mengantarnya. Juru Kunci membuka pintu gerbang makam dan mempersilahkan kami masuk dengan ramah. Kami semua masuk membaca  Surah Yasin dan tahlil dengan penuh khusyuk.

Kota Pontianak, 13 Desember 2009

Comments

Popular Posts