MENANTI SANG PURNAMA

(Cerpen ini dimuat di Harian Borneo Tribune, pada hari Sabtu 9 Juni 2012)
Batu batu Jalan setapak seperti memuntahkan  kembali rasa rindu yang tiba- tiba  mencuat di kepala, seperti bola lampu yang dialiri listrik. Ketika memasuki desaku, sang senja mulai kembali ke peraduannya. Gelap mulai menyelimuti langit Madani. Cahaya lampu pelita di rumah-rumah penduduk tampak seperti kunang- kunang dari kejauhan. Sudah 10 tahun kami  tinggal di relokasi Madani, tetapi terumah-rumah kami masih belum juga dialiri listrik.


“Kok sampai malam sampainya nak?” Tanya perempuan berselendang yang berdiri di parit depan rumah. Yang kuyakini itu adalah suara ibuku.
“Tadi berangkatnya siang bu dari tempat kost.” Jawabku seraya menghampirinya kemudian kucium telapak tangannya yang kasar dengan takdzim. Jari jemarinya yang keras menggambarkan kerasnya hidup yang ia jalani.
“Ya sudah. Kamu mandi dulu di parit. Nanti setelah sholat isya’ kamu pergi keundangan maulid di Mushola Al- Madani.”

Akupun masuk kerumah menaruh tas dan bergegas mandi ke parit yang terletak di depan rumahku. Dingin menusuk tulang ketika kubasahi tubuhku yang tirus ini dengan air parit yang berwarna pekat seperti air teh. Rasa kelat menempel di kulit walau sudah aku lap dengan handuk. Konon air kelat itu berasal dari air akar pepohonan yang tumbuh di hulu hutan Madani.

Di dapur, ibuku tampak sedang meniup- niup corong bambu untuk membesarkan api  kayu bakar di bawah panci. Asap tebal membumbung hingga ke atap dapur.
“Ibu buatkan jagung rebus buat kamu. Nanti sepulang dari acara maulid di mushola kita makan sama- sama”. Ucap ibuku sambil membolak-balik kayu bakarnya.
“Iya bu.” jawabku pendek seraya menggulung sarungku ke pinggang. Tak lupa kupakai kopiah hitam Tiga Odheng yang menggantung di tiang ruang tamu.

Dengan di temani cahaya rembulan aku berangkat ke mushola Al Madani yang tak jauh dari rumahku. Anak- anak dan ibu-ibu tampak riang berkumpul teras mushola sementara para lelaki dewasa sudah duduk bersila mushola. Di depan mereka tersuguh buah- buahan beraneka ragam. Ku ucapkan salam pada mereka dan menyalaminya satu persatu.
“Sudah setengah tahun ya kamu tidak pulang ke Madani? Gimana kuliahnya? Lancar?” Tanya pamanku yang juga hadir di tengah- tengah mereka.
“Iya man. Alhamdulilah semuanya berjalan dengan lancar.” Balasku.

Setelah semua warga berkumpul dan duduk sempurna. Kiai Somat memulai acara maulid. Diawali dengan bertawazzul terlebih dahulu kepada baginda Nabi Muhammad, para sahabat dan alim ulama. Selanjutnya terdengar lantunan merdu kiai Somat membaca Al-Barzanji.

Al- Barzanji adalah kitab yang disusun oleh Sayid Syeikh Ja’far Al Barzanji. Isinya berupa karya tulis puisi yang terbagi atas 2 bagian yaitu Natsar dan Nazhom. Bagian natsar mencakup 19 sub-bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi Ah pada tiap-tiap rima akhir. Keseluruhnya merunutkan kisah baginda Nabi Muhammad, mulai saat-saat menjelang Nabi dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nazhom terdiri dari 16 sub bagian berisi 205 untaian syair penghormatan, puji-pujian akan keteladanan ahlaq mulia baginda Nabi Muhammad, dengan olahan rima akhir berbunyi Nun.

Membaca bait-bait dalam kitab Al-barzanji membuat tubuhku yang penuh dengan lumuran dosa ini seperti terlibat langsung dalam penggalan-penggalan hidup bersama Baginda Nabi. Saat yang paling mengesankan adalah ketika kami berdiri dan kemudian melantunkan syair-syair pujian kepada baginda Nabi. Diantara bunyi bait-baitnya adalah :
Telah terbit purnama di tengah kita.

Maka tenggelam semua purnama. Seperti cantikmu tak pernah kupandang.
Aduhai wajah ceria. 

Anak- anak mulai berebut buah- buahan yang dihidangkan di depan kami usai kiai Somat membacakan doa pamungkas sholawat Sallallahu Rabbuna Allanu rill Mubin Ahmadal Mustafa Sayyidil Mursalin Wa ala Allihi Wasohbihi Ajma’in. Hanya dalam hitungan detik aneka buah- buahan yang dihidangkan di depan para hadirin ludes direbut oleh anak- anak. Para orang tua hanya tertawa melihat mereka. Para orang tua mengalah dan memaklumi karena tradisi berebut buah-buahan sudah berlangsung sejak nenek moyang mereka.

Ditemani jagung rebus di halaman rumah, ibuku tampak menunggu kedatanganku. Saat bulan purnama ibuku selalu mengajakku duduk bercengkrama, berkeluh kesah tentang perjalanan hidupnya. Saat bulan purnama, saat dimana desa kami terang benderang. Kehadiran bulan purnama seolah menjadi penghibur bagi kami yang tak bisa menikmati aliran listrik. Butiran-butiran air mata ibu tak terbendung kala ibu bercerita tentang sosok ayahku yang tak kunjung kujumpai batu nisannya di desa kami yang bernama Senangi.
Ibuku bercerita bahwa waktu ayah tinggal di Senangi, ayah selalu memimpin zikir Nazam. Zikir nazam merupakan tradisi umat islam yang berkembang di kampung kami. Konon zikir nazam dipopulerkan oleh Syeikh Ahmad Khatib al- Sambasi, seorang ulama besar yang mendirikan tarekat Qadariyah –Naqsabandiyah. Zikir nazam sendiri merupakan zikir yang berpedoman pada kitab Al-Barzanji.
“Dulu bapakmu selalu mengajak kita duduk di halaman rumah sepulang dari zikiran. Biasanya bapakmu membawa berkat[1] dan kami makan bersama-sama” Ucap ibu sambil menyeka air matanya.
Cerita ibu berakhir ketika sang purnama tepat berada diatas kepala kami. Seolah sudah bertemu ayah. Ibuku menatap sang purnama dan bergegas masuk kedalam rumah.

                                                                                                       Madani, 14 Rabiul Awal 1432 H

Comments

Popular Posts