GERIMIS DI SENJA MUHARRAM

Foto Internet
(Cerpen ini dimuat di Harian Borneo Tribune, Jum'at 7 Desember 2012) Cuaca sore ini tidak secerah hari kemarin. Sejak tadi siang, mendung masih menggantung di langit Kota Khatulistiwa. Langit seakan- akan ingin menyambut hari pertama di bulan Muharram dengan sendu. Perlahan, Gerimis mulai berjatuhan.
“Sore yang dingin. Enaknya masak mie instan rebus ya.” Ujar lelaki itu sambil memasang bajunya dan berdiri di jendela kamar. Aku tidak menjawabnya, hanya diam menatap wajahnya sambil meringkuk setengah telanjang di dalam selimut. Aku merasa malu pada sikapku sendiri yang dengan mudah menyerahkan mahkotaku untuk yang kedua kalinya. Entah kenapa, aku merasa ingin memiliki dia seutuhnya?
“Gimana? Lapar ni.” Lelaki itu membujuk ku seraya memegang ke perutnya. Memberi isyarat kalau dia lagi lapar. “Ada mie rebus di dapur. Abang kan pandai masak mie rebus.” Jawabku.
Lelaki itu beranjak dari hadapanku sambil menggelengkan kepala. Dia tahu dan sangat paham dengan sikapku yang sedikit pemalas dan manja.

Bagi perempuan lain, mungkin wajah lelaki itu tidaklah begitu istimewa. Wajah nya pribumi, bukan wajah peranakan seperti Irvan Bachdim idola kaum hawa di kampusku. Ia bukan model, atau anak orang kaya dengan ke glamouran harta dalam hidupnya. Ia adalah lelaki yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan. Bahkan untuk membiayai uang kuliah dan mencukupi kebutuhan hidupnya. Ia mampu mandiri tanpa bantuan orang tuanya.
Aku mengenal lelaki itu di sebuah toko eletronik ketika ingin membeli note book baru. Seorang sahabat mengenalkan aku pada lelaki itu. Katanya Ia juga mahasiswa Universitas Putra Bangsa Jurusan Ekonomi di kampusku. Meski seorang sales tapi wajahnya kharismatik dan santun ketika berbicara. Alfan Sofyan, begitu nama lengkapnya lelaki itu ketika Ia menjabat tanganku.
Semenjak perkenalan itu. Aku sering bertemu dengan Alfan di kampus. Kami berdua sering bertemu di kantin Koperasi Mahasiswa kampus. Ia sering nongkrong di kantin bersama teman-temannya sambil menjajakan brosur notebook dan menawarkan jasa isi pulsa kepada seluruh isi kantin tanpa merasa malu.
Diam-diam aku mulai mengaguminya. Hingga pada akhirnya Alfan hadir sebagai kekasih hidupku. Ia masuk dengan perlahan kedalam ruang hatiku terdalam. Menggeser Herman- calon tunanganku. Lebih tepatnya lelaki yang oleh Bapak ingin dijadikan calon suamiku, kelak kalau aku sudah lulus kuliah.
Kehadiran Alfan sebagai kekasih membuat batinku menjadi tenang. Tidak seperti Herman yang sering bersikap kasar ketika aku tidak sepaham dengan pemikirannya. Selalu menyalahkan tingkah laku aku, dan bersikap manis didepan Bapak. Aku sendiri memang belum mengenalkan Alfan kepada kedua orang tuaku. Hanya adik perempuanku yang tau tentang hubungan kami. Aku menyuruh adikku untuk tidak memberitahu hubungan kami. Disamping aku masih belum berbicara kepada Bapak tentang ketidakcocokanku dengan Herman, aku dan Alfan berbeda etnis. Etnis kami pernah terlibat kerusuhan sosial yang mengakibatkan terungsinya suku Alfan dari kampungku. Mereka terelokasi ke suatu wilayah bernama Madani.

 Aku putuskan beranjak dari selimutku dan memasang baju. Suasana tempat kost tampak sepi. Seluruh penghuni kost sepertinya enggan untuk keluar dari kamarnya.
Angin sore yang dingin menyentuh tengkukku. Aku melihat Alfan  menyalakan kompor gas, kemudian menuangkan dua gelas air kedalam panji. Tidak butuh waktu lama, sebungkus mie instan sudah menyerah kalah didalam  panji yang mendidih. Alfan  mematikan kompor dan memasukkan mie kedalam mangkuk. Aku memperhatikannya dari belakang, Dua mangkuk mie  sudah tersaji. Kami membawanya kedalam kamar.
Baru tiga sendok mie yang kami seruput dengan nikmat, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. “Kakak ada didalam ke?” Aku seperti mengenal suaranya. Pintu kamarku tidak dikunci tapi aku beranjak dari semangkok mie yang aku seruput untuk membukakan pintu.
“Kakak.” Perempuan mungil itu langsung memeluk tubuhku.
“Aku kangen sama kakak”. Katanya manja. Ia datang ke tempat kost ku seperti dibawa angin sore. Tanpa memberitahuku terlebih dahulu.
            “Sudah sebulan kita gak ketemu, Eni sekarang keliatan gemuk”. Sapa Alfan seraya berdiri menyalami adikku dan menawarkannya untuk dibuatkan semangkok mie rebus. Ia menggeleng sambil tersenyum kemudian merebahkan badannya ke kasur. Ia masih mabuk darat karena kelelahan menempuh perjalanan selama 6 jam dari rumahku di Serambi ke Kota. Aku tertawa melihatnya. Semua anggota keluargaku memang “mewarisi” mabuk darat. Apalagi jika naik angkutan umum.
Alfan menghabiskan kuah terakhir. Ia lalu bersendawa dan memandangku. “Sudah sore, aku mau balek dulu ke kost an. Besok pagi aku kesini lagi, sekalian ngajak Adik Eni jalan-jalan ke Mal”. Aku mengangguk lalu mencium tangan nya.

“Dari tadi ke, bang Alfan disini kak?” Tanya adikku seraya menggeser mangkok yang sudah kosong ditinggalkan Alfan. “Iya. Sejak tadi siang dia disini dengan kakak. Emangnya kenapa?” Jawabku balik bertanya.
“Sebaiknya kakak berhenti memberi harapan pada dia. Kasian nantinya.” Ucap Eni sambil celingukan. Matanya manatap keluar kamar, memastikan kalau Alfan sudah keluar dari rumah.
“Maksud mu apa kamu ngomong kayak gitu?” Aku menatap matanya dengan tajam.
“Iya kak. Aku kesini karena ingin ngasi tau kakak kalau keluarga bang Herman tadi malam kerumah. Bapak sudah menentukan tanggal pertunangan kakak dengan bang Herman. Rencananya bulan depan”
“Apa?”
Aku hampir tersedak mendengar ucapan adikku. Rasa kuah mie yang masih tersisa dimulutku terasa pahit aku telan. Aku membisu. Jiwaku tergoncang. Dan perlahan air mataku mulai menetes. Berjatuhan seperti gerimis di senja yang tirus ini.  Aku biarkan air mata ini jatuh susul menyusul, sebagai bukti ketidakmampuan menguasai diri.

Putri Dara Hitam, 7 Muharram 1434 H

Comments

Popular Posts