PEREMPUAN PENGHIAS MALAM

Cerpen Karya : Abdul Hamid
Foto Internet
(Cerpen ini dimuat di Borneo Tribune, Edisi Selasa 11 Juni 2013) Rambutnya berkilau terkena sinar lampu. Jari – jemarinya di cat dengan pink merona. Mulutnya sedikit menganga, kemudian dia mengolesi bibirnya dengan lip glossagar bibirnya terlihat basah dan tampak lebih seksi, tangannya beralih ke blush on dan memulas kedua wajah cantiknya. Ia menengok jam tangan mewah yang menempel dipergelangan tangan nya. Pukul 20.00. Sudah waktunya bekerja. Disaat orang-orang disekeliling kontrakan nya pulang dari tempat kerja. Devi baru bersiap untuk berangkat kerja.
Di belakang gedung perkantoran dan Mall Kota Tugu,  tepatnya di sebuah sudut gang sempit itu Devi tinggal. Sudah setengah tahun dia mengontrak sebuah rumah minimalis yang ia diami bersama teman kuliahnya, Santi. Seorang teman yang telah mengubah kehidupan Devi, dari gadis desa menjadi gadis metropolitan.

Devi tidak betah tinggal di kampung bersama kedua orang tuanya. Apalagi, kedua orang tuanya sudah dianggap tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan hidupnya sebagai seorang mahasiswi. Tuntutan gaya hidup membuat Devi mengikuti jejak Santi, mahasiswi yang sukses meraup kemewahan hidup dengan menjadi perempuan penghias malam.
Malam ini, Devi mendapat job untuk menemani seorang politisi asal Semayan yang bertandang ke Kota Tugu dalam rangka kunjungan kerja. Dia diberi “tugas” oleh seorang pengusaha tambang yang biasa menjadi langganannya untuk menemani seorang politisi melepas kepenatan di sebuah hotel berbintang lima.
Angin malam bertiup, menyusup melalui pori-pori kulitnya yang putih, sesekali rok mininya tersingkap terkena tiupan angin, cahaya lampu gang sempit itu menyoroti langkahnya yang gemulai. Beberapa orang yang lalu lalang di gang sempit itu meliriknya.
Seorang pria paruh baya sudah menunggu kedatangan Devi di loby hotel. “Malam sayangku.” Lelaki itu langsung menyapa Devi  begitu dia masuk ke ruangan loby. “Ada layanan untuk kamu malam ini. Tolong layani tamu abang dengan baik ya.” Ucap lelaki yang dua bulan terakhir menjadi langganannya Devi. Lelaki itu kemudian membawanya masuk kedalam kamar 308, mengenalkannya pada politisi asal Semayan.
Malam itu, Devi menjalani profesinya dengan profesional. Puluhan lembar ratusan ribu dia dapatkan setelah membuat politisi itu berkeringat.” Besok, pagi-pagi saya berangkat ke bandara, jadi malam ini kamu pulang pake taksi aja. Terima kasih atas layanannya.” Ucap lelaki itu ketika mengantar Devi sampai kedepan pintu kamar hotel.
Sebuah mobil taksi mengantarkan Devi kembali ke depan gang sempit itu. Ia berjalan kaki dengan gontai menyusuri jalanan gang sempit.
“Dari mana kamu nak? Kok jam segini baru pulang?.” Tanya perempuan paruh baya kepada Devi, begitu dia sampai di depan pagar kontrakannya. Perempuan itu tidak lain adalah tetangga Devi.
“Pulang kerja nek.” Jawab Devi seraya mendorong pintu pagar kontrakakannya.
“Seandainya aku ibumu. Maka alangkah sedihnya aku melihat anaknya harus bekerja sampai larut malam.”
“Ibu saya tidak akan sedih karena dia tidak mengerti kebutuhan anaknya.”
“Dia pasti sangat mengerti kebutuhanmu nak. Kebutuhanmu akan terpenuhi jika engkau rela menjadi perempuan penghias malam diatas sajadah imanmu.”
Devi terhenyak mendengar ucapan perempuan paruh baya itu. Dia seperti diberi cermin bening yang membuat dirinya berkaca dengan jelas betapa berdosanya dia terhadap Sang Penciptanya. Hati dan perasaannya tersentuh. Buliran bening tak terbendung mengalir membasahi pipinya yang halus. 
Pontianak, 2 Juni 2013

Comments

Popular Posts