KUPU-KUPU DI BUKIT ROBAN

Kegiatan tadabbur alam oleh BEM fakultas MIPA mengantarkan aku ke tempat wisata alam yang sedang menjadi tranding topic di media sosial, Twitter.  Bukit Roban, begitu orang-orang di Kota Amoy menyebutnya.
Pemandangan asri dan udara yang sejuk seperti tuan rumah yang ramah menyambut kedatangan tamunya. Kicauan burung, pepohonan rindang, kupu-kupu yang berterbangan dan semilir angin yang berhembus seolah ingin berbicara kepadaku bahwa “negeri ini adalah negeri penggalan surga”.


Namun seketika, ada suara yang menyanggah semilir angin.“Ah,.. mana mungkin ini negeri penggalan surga. Kamu liat sendiri pemberitaan di televisi. Tidak sedikit perempuan di kota ini yang memilih kawin kontrak dengan pria Taiwan hanya demi untuk bertahan hidup. Saudaramu hampir bertikai hanya karena persoalan  sepele. Patung Naga.  Tempat-tempat asri yang kau anggap layak untuk bertadabbur ini, kini menjadi tempat berlindung yang aman untuk memadu kasih bagi mereka yang bukan muhrimnya.”
Aku menoleh kekanan. Benar saja. Di bawah pohon nan rindang itu, ada Seorang wanita yang menurut perkiraanku masih  duduk di bangku SMP bergelayut di bahu kekasihnya. Sesekali, lelaki yang masih remaja itu mencium kening wanita yang disampingnya. Amboy,.. ternyata apa yang sering orang-orang unggah di youtube itu sudah benar-benar lazim terjadi. Dua sejoli itu sedang dimabuk asmara. Asik saja, seolah tidak terganggu dengan kedatanganku.

Aku menggelengkan kepala kemudian buru-buru mengalihkan pandangan. Tiba-tiba Seekor binatang yang sayapnya berwarna kuning ke-emasan bersiap untuk hinggap di lengan baju kemejaku. Seekor kupu-kupu. Perlahan, aku menggerakkan tangan kiriku untuk menangkapnya. Ibu jari dan telunjukku memasang kuda-kuda. Menganga seperti kepiting yang bersiap untuk menangkap mangsanya. Namun ketika jariku hampir 2 centi meter mencepit bulunya. Seketika kupu-kupu itu segera terbang. Dia seolah merasakan ada gerakan yang mengancam keselamatan dirinya. 
‘Ah,. Gerakan tangan ini tidak secekatan waktu aku duduk di bangku  SD”. Aku menggerutu pada diriku yang tidak berhasil menangkap binatang yang dulu sering hinggap di tubuh ayah.
Biasanya, Sepulang dari berladang ayah duduk di teras rumah sambil membaca Kitab Uquudul Juman tanpa memakai baju. Hanya sehelai sarung yang menggulung dipingganngnya. Lalu beberapa ekor kupu-kupu yang entah dari mana asalnya hinggap di  tubuh ayah. Kulit tubuhnya yang coklat seperti menjadi serbuk bunga yang menarik perhatian kupu-kupu.
Suatu hari aku bertanya mengapa tubuh ayah sering di hinggapi kupu-kupu? Ayah menjelaskan padaku dengan penuh khidmat.
“Nak,. Binatang kupu-kupu ini tadinya berasal dari seekor ulat,  yang menyebabkan gatal apabila kita menyentuhnya. Ketika menjadi ulat, makhluk ini terlihat sangat menjijikan. Bahkan, seluruh waktunya dihabiskan untuk memakan semua dedaunan yang ada di sekitarnya. Ulat adalah makhluk rakus, yang merusak lingkungan sekitarnya. Oleh petani ulat dianggap sebagai musuh yang harus dibasmi. Tetapi, Ketika ulat menghetikan kebiasaan makannya, maka dia akan berubah menjadi kepompong. Ia sedang mengalami proses kholwat[1] agar menjadi makhluk yang indah yang dicintai banyak orang, tidak lagi menjadi makhluk yang rakus seperti ulat. Setelah berkholwat, maka dia akan menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu hanya memakan sari dari bunga-bunga yang bermekaran. Ia menjadi manfaat bagi petani karena membantu proses penyerbukan. Kamu harus belajar dari binatang ini. Kelak kamu akan tahu sendiri jika kamu sudah bertarikat.” Terang ayah. Aku yang saat itu masih berusia 7 tahun, hanya mengangguk bingung.
Kupu-kupu di Bukit Roban, yang tiba-tiba hinggap di bajuku seolah ingin mengingatkan kembali tentang nasihat almarhum ayah. Meskipun sampai saat ini aku belum tahu mengapa binatang ini suka hinggap di tubuh ayah?

Putri Dara Hitam, 9 Rabiul Awal 1435 H


[1] Kholwat (bahasa arab) : pertapaan, menyendiri

Comments

Popular Posts