DARI SAKAW NARKOBA KE SAKAW DZIKIR

Sebelumnya tidak pernah terpikir oleh saya untuk terjun kedalam dunia dakwah. Menjadi seorang Muballigh. Apalagi sampai di panggil ustad. Bukannya saya tidak mau. Akan tetapi, panggilan ustad bagi saya rasanya masih kurang pantas. pertama, saya sendiri rasanya belum bisa menjadi contoh yang baik di dalam lingkungan keluarga saya. Yang Kedua Ilmu agama saya masih dangkal. Saya bukan alumni pondok pesantren yang sedari kecil sudah dibekali pemahaman ilmu  fiqih, tauhid dan tasawuf.

Pendidikan agama yang pernah saya “kenyam” adalah pendidikan membaca Al-Qur’an di Mushola sewaktu tinggal bersama nenek saya di Madura. Selebihnya pemahaman ilmu tentang fiqih, tauhid dan ilmu tasawuf baru saya pelajari ketika saya sudah duduk di bangku kuliah. Itupun saya mempelajarinya lewat seminar, diskusi dengan teman-teman di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan majelis taklim yang belakangan ini saya sering datangi ketika saya sudah menikah.

Belum genap satu tahun saya belajar memperdalam ilmu fiqih, tauhid dan tasawuf di majelis taklim Al-jawahir dan menjadi Ikhwan dari Tarekat Qodiriyah Wan Naqsabandiyah. Seorang teman tiba-tiba meminta saya untuk mengisi Program Religi di Wisma Siirih Pontianak. Suatu tempat Rehabiitasi bagi Korban Penyalahgunaan Narkoba.

Awalnya, saya menolak. Saya menyarankan teman saya untuk mencari orang lain yang lebih pandai. Tapi Dia tetap saja membujuk saya. Katanya, pengalaman selama beberapa tahun mereka memanggil ustadz untuk mengisi kegiatan religi di Wisma Sirih banyak yang tidak betah. Maklum saja, orang yang mereka hadapi bukanlah masyarakat biasa pada umumnya. Tetapi mereka adalah orang dibawah pengaruh “ Pil dan Obat Iblis”. Pikiran mereka tidaklah jauh dengan orang-orang yang mengalami sakit kejiwaan.

Banyaknya dorongan dari teman-teman ikhwan TQN kepada saya untuk mempraktikkan  Inabah di Wisma Sirih membuat saya meng” iyakan” rayuan teman saya.

Jum’at tanggal 22 Agustus 2014, untuk pertama kalinya saya mengisi program Religi di Wisma Sirih. Cukup berkesan, setelah saya membimbing mereka belajar berwudhu dengan benar. Saya membimbing mereka untuk berdzikir dengan kalimat La Ilaha Illallah.

Banyak yang menangis ketika mereka berdzikir. Qolbu mereka terasa tersentuh. Seusai dzikir, mereka curhat kepada saya tentang apa yang mereka rasakan saat mereka berdzikir menyebut kalimat La Ilaha Illallah. “Nikmat ustad. Serasa ada yang beda. Pikiran lebih tenang. Lebih sejuk. Dan serasa ingin berdzikir lebih lama lagi.” Ucap salah seorang diantara mereka kepada saya.

Saya merasa sangat bahagia dengan apa yang mereka rasakan. Zikir memang merupakan salah satu cara untuk menutup celah setan masuk kembali kedalam hati mereka. Zikir membersihkan jiwa kita yang kotor Saya yakin, mereka akan berubah. Sakaw Narkoba yang dulu mereka rasakan akan berganti menjadi Sakaw Dzikir yang akan mendatangkan keberkahan.
Semoga Rahmat Allah senantiasa tercurah bagi kami yang sedang belajar untuk memperbaiki diri.  Amin Ya Robbal Alamin.

Comments

Popular Posts