POTENSI EKONOMI SANTRI

Foto Animasi Santri : Internet
Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan Ketua Bidang Organisasi Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI) Kalimantan Barat. Diskusi kami berdua pagi itu membicarakan tentang upaya-upaya membangkitkan ekonomi santri di Kalbar.

Memang selama ini tidak sedikit santri yang sudah menjadi alumni pondok pesantren berhasil mengembangkan usaha bisnis, menjadi wirausaha yang sukes. Sekedar menyebutkan beberapa contoh santri yang berhasil menjadi pengusaha antara lain : H. Ahmad Faruki alumni pondok pesantren Darul Ulum Kubu Raya yang berhasil menjadi pengusaha bidang meubeler, property di Kota Pontianak. H. Paryadi, alumni pondok pesantren Tebuireng Jombang yang pernah menjabat Wakil Walikota Pontianak sekarang sukses mengembangkan usaha pom bensin. H. Fauzi alumni salah satu pondok pesantren di  Jawa Timur yang berhasil mengembangkan usaha bakery dan masih banyak santri-santri yang lain yang berhasil dalam berwirausaha.

Penanaman sikap kemandirian yang di pupuk ketika menjadi santri, membuat mereka selalu istiqomah dan tawakal dalam menekuni bidang pekerjaan mereka.

Jiwa kemandirian santri di pesantren memang tumbuhkan melalui bimbingan dalam mengurus sendiri kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mencuci, membersihkan kamar tidur, dan sebagainya. Biasanya, semakin dewasa santri semakin di serahi tanggungjawab mengurus satu bagian kegiatan pesantren. Kemudian setelah menjadi santri senior, diberi tanggungjawab memimpin adik-adiknya, atau diserahi tugas mengembangkan program-program pesantren, seperti mengurus majlis ta’lim, koperasi pesantren, kegiatan pramuka santri, program agribisnis, dan sebagainya.

Sikap individu yang diperoleh secara komulatif selama perkembangan itulah, yang membuat santri terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungannya. Sehingga santri mampu berpikir dan bertindak sendiri ketika dia sudah keluar dari pesantren.

Disamping itu, ada beberapa pondok pesantren yang memberikan keahlian keterampilan kepada santrinya, seperti keterampilan bidang pertanian, peternakan, perkebunan dan perdagangan. Di bidang kewirausahaan, pada umumnya pesantren sudah memiliki koperasi pondok pesantren (Kopontren) yang menjadi wadah untuk melatih skill enterpreneurship mereka.

Di dalam diskusi yang singkat itu, kami berkesimpulan bahwa potensi ekonomi santri cukup besar apabila terwadahi. Ekonomi santri bisa menjadi model pendorong kemandirian ekonomi bangsa. Apalagi saat ini, jumlah keselurahan santri di Kalbar sudah mencapai 15.287, yang tersebar di  146 pondok pesantren di Kalimantan Barat. Kelemahan yang dialami selama ini, para santri dan pondok pesantren masih bergerak sendiri-sendiri. Seandainya mereka bersatu, maka akan melahirkan gerakan ekonomi yang besar.

Pontianak, 7 November 2014

Comments

Popular Posts