KEMANDIRIAN

Kemandirian - Prinsip Ke-Lima dalam Pengelolaan Koperasi Syariah Mitra Masyarakat adalah Kemandirian. Dalam konteks perkoperasian, Kemandirian atau dalam bahasa inggris nya selft-reliance ialah sikap mental, dimana seseorang bergantung pada kemampuan dan sumberdayanya sendiri.

Kemandirian sering dipertanyakan, apakah koperasi dapat mandiri atau tidak. Kunci jawabannya adalah terletak pada keanggotaan koperasi itu sendiri. Sebagai member based association, yakni organisasi yang berbasiskan orang, maka kemandirian koperasi pada dasarnya ditentukan oleh kondisi orang-orang yang menjadi anggotanya. Koperasi mengajarkan setiap orang belajar mandiri atau berdiri sendiri dan belajar tidak mengandalkan orang lain tapi mengandalkan sumberdaya yang dimilikinya.

Pentingnya kemandirian pada diri seseorang juga pernah diajarkan Rasulullah kepada ummatnya, seperti yang terekam dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik Ra : Bahwa seorang lelaki dari kaum Anshar datang menghadap Rasulullah SAW dan meminta sesuatu kepada beliau. Rasulullah SAW bertanya pada orang tersebut, “Adakah sesuatu di rumahmu?”
“Ada, ya Rasulullah!”. Jawabnya, “Saya mempunyai sehelai kain tebal, yang sebagian kami gunakan untuk selimut dan sebagian kami jadikan alas tidur. Selain itu saya juga mempunyai sebuah mangkuk besar yang kami pakai untuk minum.”
“Bawalah kemari kedua barang itu,” sambung Rasulullah SAW. Lelaki itu membawa barang miliknya dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Setelah barang diterima, Rasulullah SAW segera melelangnya. Kepada para sahabat yang hadir pada saat itu, beliau menawarkan pada siapa yang mau membeli. Salah seorang sahabat menawar kedua barang itu dengan harga satu dirham. Tetapi Rasulullah menawarkan lagi, barangkali ada yang sanggup membeli lebih dari satu dirham, “Dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah kepada para hadirin sampai dua kali. Konon ini adalah lelang pertama kali yang dilakukan Rasulullah.
Tiba-tiba salah seorang sahabat menyahut, “Saya beli keduanya dengan harga dua dirham. Rasulullah menyerahkan kedua barang itu kepada si pembeli dan menerima uangnya. Uang itu lalu diserahkan kepada lelaki Anshar tersebut, seraya berkata, “Belikan satu dirham untuk keperluanmu dan satu dirham lagi belikan sebuah kapak dan engkau kembali lagi ke sini.”
Tak lama kemudian orang tersebut kembali menemui Rasulullah SAW dengan membawa kapak. Rasulullah melengkapi kapak itu dengan membuatkan gagangnya terlebih dahulu, lantas berkata, “Pergilah mencari kayu bakar, lalu hasilnya kamu jual di pasar, dan jangan menemui aku sampai dua pekan.”
Lelaki itu pergi dan taat melaksanakan perintah Rasulullah. Setelah dua pekan berlalu ia menemui Rasulullah melaporkan hasil kerjanya. Lelaki itu menuturkan bahwa selama dua pekan ia berhasil mengumpulkan uang sepuluh dirham setelah sebagian dibelikan makanan dan pakaian. Mendengar penuturan lelaki Anshar itu, Rasulullah bersabda, “Pekerjaanmu ini lebih baik bagimu daripada kamu datang sebagai pengemis, yang akan membuat cacat di wajahmu kelak pada hari kiamat.”

Dari hadits yang cukup panjang ini semestinya kita bisa belajar bahwa konsep pengentasan kemiskinan dengan filososfi "hanya orang miskin yang dapat mengatasi kesulitannya sendiri" sudah diajarkan Rasulullah 14 abad yang silam, jauh sebelum Frederich Raiffesien, pendiri koperasi kredit di Jerman, Barat (1856) mempraktikkan nya pada Credit Union.

Kemandirian dalam menolong kesulitan diri sendiri dengan memanfaatkan modal yang ada pada diri si 'miskin" kemudian dikumpulkan (ditabung) secara berjamaah untuk pengembangan ekonomi rumah tangganya semestinya menjadi prinsip gerakan koperasi syariah dalam menjalankan roda perekonomian ummat. Menjadi "ruh" gerakan koperasi di Indonesia sebagai lembaga keuangan ekonomi syariah dalam dalam membangun kekuatan masyarakat setempat untuk keluar dari jeratan kesulitan hidup dan kemiskinan.

Comments

Popular Posts