TRADISI TORON TANA

Wirda, putri sulung saya mengambil barang sebagai simbol
"menentukan" pilihan hidupnya
Toron Tana, Tradisi Menyambut 7 Bulan Kelahiran Bayi

Masyarakat Madura di Kalimantan Barat memiliki tradisi khusus untuk menyambut usia 7 bulan kelahiran seorang bayi. Tradisi yang hingga kini masih terpelihara dan dilestarikan oleh orang Madura di tanah rantau Kalimantan Barat adalah tradisi toron tana. Kata toron tana berasal dari dua suku kata yakni toron yang berarti turun, dan tana- yang berarti tanah. Maka toron tanah (turun tanah) merupakan ritual bagi orang Madura, yang menandakan bahwa seorang anak manusia mulai dibenarkan menginjakkan kakinya pertama kali ke tanah.
Ritual ini, khusus dilakukan kepada bayi yang sudah berumur 7 bulan. Dengan harapan agar si bayi “mengenal” tempat dia hidup. Diperkenalkan secara simbolik kepada tanah sebagai sumber penghidupannya dan tempat baginya kelak untuk berpulang menghadap sang penciptaNya.
Biasanya, kesempatan bahagia ini diselenggarakan pada  siang hari dibagian depan dari pekarangan rumah. Dengan sejumlah perlengkapan yang harus disiapkan terlebih dahulu dalam ritual ini adalah :
1.  Tettel, biasanya dibuat dalam tiga warna, tettel merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih kemudian di warnai dengan pewarna kue.
2.    Kue tujuh jenis 
3.    Tumpeng
4.  Air komkoman. Air komkoman adalah air yang dituangkan kedalam mangkuk, dimana didalamnya terdapat tujuh jenis bunga.
5.  Sebuah lengser (nampan) yang didalamnya terdapat seikat padi, jagung, Al-Qur’an, tasbih, cermin, pensil, buku tulis, uang, dan sisir.
Dalam penyelenggaraan ritual tersebut, selain kedua orang tua si bayi, diundang pula kerabat dekat, mertua, dari pihak laki-laki atau perempuan, tetangga, undangan dan seorang ustaz atau kyae (kiai) yang bertugas membaca salawat atau membaca doa.
Proses pelaksanaan
Setelah para kerabat, tetangga dan undangan sudah hadir. Sia anak dibawa ke hadapan para undangan dengan memakai pakaian baru. Ustaz atau kiyai yang oleh tuan rumah diberi amanah untuk membaca doa, memimpin pembacaan shalawat al- barzanji atau bacaan  lain sesuai permintaan tuan rumah. Setelah itu, si anak akan dibawa kehalaman rumah untuk diinjakkan kakinya ke tanah dan dimandikan dengan air komkoman.
Berikutnya si anak menginjakkan kedua kakinya pada tiga lengser tettel yang sebelumnya sudah dilapisi dengan daun pisang, agar tettel tersebut tidak kotor ketika diinjak. Selanjutnya si anak di letakkan di depan nampan yang berisi seikat padi, jagung,  Al-Qur’an, tasbih, cermin, pensil, buku tulis, uang, dan sisir. Si anak diminta untuk mengambil salah satu barang yang ada dalam nampan.
Menurut kepercayaan masyarakat, jika anak mengambil Al-Qur’an, maka ketika dewasa dia akan menjadi seorang yang senang membaca atau cinta pada Al-Qur’an. Jika anak tersebut mengambil beras atau jagung ketika dewasa dia akan menjadi orang petani. Jika anak tersebut mengambil sisir atau cermin, anak tersebut akan menjadi anak yang suka sekali bersolek. Jika dia mengambil tasbih ketika dewasa dia akan menjadi orang kiai/nyai atau orang yang senang berzikir. Dan jika dia mengambil buku atau bolpen, dia akan menjadi seorang yang terpelajar.
Benda yang dipilih oleh si anak, oleh orang tua dan yang hadir, ditafsirkan sebagai petunjuk mata pencaharian apa yang kelak dapat membahagiakan hidupnya. Demikian pula benda yang dipilih oleh si anak itu juga sebagai gambaran dari sifat dan watak si anak kalau sudah dewasa.
Setelah acara memilih benda oleh sianak dianggap selesai. Maka acara diakhiri dengan makan bersama. Biasanya makanannya terdiri dari nasi tumpeng, lauk-pauk dari telur dan ayam, serta sayuran yang dimakan di tempat yang punya hajat.

Comments

Popular Posts