SIKLUS EKONOMI, DARI ZAMAN NABI YUSUF HINGGA PRESIDEN JOKOWI

Apa yang pernah di ramalkan oleh Pak Chairul Tanjung ketika menjabat sebagai Menko Perekonomian di era Presiden SBY itu sekarang benar-benar terjadi. Pak CT, sapaan akrab pemilik Trans TV dan Trans7  itu memprediksi bahwa siklus 7 tahunan perekonomian Indonesia akan terjadi pada tahun 2015. Indonesia akan mengalami perlambatan ekonomi karena pada tahun 2015 produktivitas dalam negeri sedang mengalami penurunan. Sedangkan pada tahun tersebut pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat cenderung membaik. Investasi di Amerika lebih menjanjikan ketimbang di Indonesia. Investor asing yang berasal negeri Paman Sam tersebut lebih tertarik untuk membawa uangnya ke nagara asal mereka.

Kenyataan nya sekarang memang demikian. Nilai tukar rupiah semakin anjlok hingga menembus angka Rp. 14.000 per USD. Semua orang mulai mengeluh, harga-harga barang elektronik merangkak naik mengikuti kenaikan dollar. Ancaman PHK besar-besaran mulai santer terdengar. desas desus krisis keuangan di dunia perbankan mulai mengemuka. Komentar miring terhadap kinerja para menteri kabinet kerja dibawah komando Presiden Jokowi mulai dipertanyakan.

Presiden benar-benar tidak bisa menutup mata. Maka, reshuffle kabinet pun dilakukan untuk memperbaiki kinerja para pembantunya. Andrinof Chaniogo terlempar. Sofyan Djalil pindah kursi ke menteri PPN/kepala Bappenas, sedangkan kemudi menko perekonomian dipercayakan kepada Darmin Nasution.

Apakah reshuffle kabinet ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi siklus ekonomi Indonesia, dan menaikkan nilai tukar rupiah terhadap Dollar? Jawabannya patut untuk kita tunggu. Yang jelas, respon pasar terhadap reshuffle kabinet biasa-biasa saja. Hampir tidak membawa pengaruh sintimen yang positif.

Dominasi modal asing di Indonesia terlalu kuat. Ditambah lagi, siklus ekonomi di Indonesia sedang terjadi. Tidak bisa kita bendung lagi. Ia merupakan 'sunnatullah' yang selalu terjadi dalam babak kehidupan manusia. Tidak saja menimpa Indonesia, tetapi hampir semua negara di atas bumi ini pernah mengalaminya. Perekonomian suatu negara tidak selalu berkembang secara teratur dari periode ke periode lainnya. Ia selalu mengalami masa naik dan turun. Kadangkala perekonomian berkembang pesat, namun kadangkala ia merosot dan berada tingkat yang paling rendah dari periode sebelumnya.

Lantas bagaimana menyikapinya? Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim semestinya belajar dari Zaman Nabi Yusuf AS. Allah SWT sudah memberikan gambaran lewat kisah seorang raja pada zaman Nabi Yusuf AS.

Dikisahkan bahwa seorang raja yang memerintah di Zaman Nabi Yusuf AS terobsesi dengan mimpinya sendiri. Suatu malam sang raja bermimpi dalam tidurnya bahwa ia meilhat ada tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.

Penasaran dengan mimpinya tersebut yang selalu datang berulang kali dalam tidurnya, sang raja meminta kepada para ahli tafsir mimpi dari seluruh penjuru negeri untuk menta’wilkan mimpinya tersebut. Namun tidak ada seorangpun yang bisa mentafsirkan mimpi sang raja. Hingga pada suatu hari ada dua pelayan yang terbebas dari penjara dan mereka teringat pada Nabi Yusuf AS. Pelayan tersebut kemudian memberitahu sang raja tentang seorang bernama Yusuf yang pandai dalam mentafsirkan mimpi. Lalu pelayan tersebut diutus untuk menemui Nabi Yusuf.

Setelah pelayan itu bertemu dengan Nabi Yusuf, dia menceritakan tentang mimpi sang raja. “Wahai orang yang dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Pinta pelayan kepada Nabi Yusuf. Nabi Yusuf kemudian mentakwilkan mimpi tersebut bahwa Negerinya akan mengalami masa subur dan hujan selama tujuh tahun berturut-turut. Oleh karena itu apa yang dipanin oleh penduduk negeri selama tujuh tahun yang dalam masa yang subur tersebut hendaknya disimpan dalam keadaan masih dengan tangkainya agar lebih awet dan tidak mudah rusak. Boleh dimakan, tapi dengan tidak berlebih-lebihan. Hal itu dilakukan guna menghadapi tujuh tahun setelahnya yang kering kerontang, yang dalam mimpi sang raja disimbolkan dengan tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus.

Ta’wil Nabi Yusuf terhadap mimpi sang raja betul-betul dijadikan ‘paket kebijakan ekonomi’ oleh sang raja guna menghadapi siklus ekonomi negaranya. Dan terbukti, paket kebijakan ekonominya sangat ampuh dalam menghadapi kekeringan yang menimpa negara yang dipimpin nya. 

Saat ini, Kita memang tidak hidup di zaman para nabi. Namun, hidayah ilmu yang diberikan oleh Allah kepada ummat Nabi Muhammad, bisa dipakai untuk meramal kondisi ekonomi Indonesia ke depan. Pak Chairul Tanjung memang bukan sekelas Nabi Yusuf.  Namun, prediksinya terhadap perekonomian Indonesia hendaknya dijadikan acuan oleh Presiden Jokowi dalam memutuskan kebijakan ekonominya.
Diskusi bulanan Memahami Fenomena Siklus Sekonomi di Kantor Kopsah Mitra Masyarakat bersama para santri

Comments

Popular Posts