DIBALIK MANISNYA LANGSAT PUNGGUR

Buah Langsat
Setelah dua kali tertunda, hari ini saya bisa bersilaturahmi ke rumah sahabat saya Sahulan, Alumni Pesantren Darun Nasyiin yang tinggal di Parit Berkat Desa Punggur Besar. Saya tidak sendirian, ada sahabat Darwis yang menemani perjalanan saya ke Punggur. Jarak Kota Pontianak dengan Desa Punggur Besar sebetulnya tidak terlalu jauh. Namun infrastruktur jalan menuju desa penghasil buah langsat itu rusak parah. Butuh kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Parit Berkat.

Truck dan pick up dengan muatan berton- ton langsat konon menjadi penyebab utama kerusakan jalan sepanjang Desa Pal IX dan Desa Kalimas. Dua desa yang menjadi jalan penghubung ke Punggur Besar.
Di Desa Punggur sekarang memang lagi banjir buah langsat.  Melimpahnya buah yang menjadi primadona semua orang itu membuat sebagian orang untuk mengirim buah langsat ke luar daerah. Ada yang di kirim ke Jawa, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kaimantan Timur bahkan di ekspor  ke Negara tetangga seperti Malaysia dan Brunai Darussalam.

“Sekarang ekspor buah langsat mengalami penurunan. Beberapa daerah sedang musim durian, jadi buah langsat jatuh di pasaran.” Terang ibu Sahulan kepada kami. Pengalamannya bertahun-tahun menjual langsat memahami betul ‘siklus’ buah di pasaran.

Harga buah langsat di pasaran memang terbilang cukup murah. Rp. 2.500 per kilogramnya. Petani buah langsat mengeluh, banyak buah langsat mereka yang tidak di panen karena tidak sesuai dengan upah tukang panjat pohon langsat yang upahnya Rp. 100.000 per harinya. Upah tersebut belum termasuk biaya angkut buah langsat dari kebun ke jalan besar.

Miris rasanya melihat buah yang kaya vitamin  tersebut di hargai sangat murah. Manis nya buah langsat rupanya tak semanis nasib para petaninya. “Sekarang banyak petani langsat yang beralih jadi kuli bangunan. Kebun-kebun langsat disini banyak yang mau di jual.” Kata Sahulan kepada kami. Dia menawarkan beberapa lokasi kebun langsat yang akan di jual oleh pemiliknya.

Banyak kebun langsat di daerah Punggur sekarang yang pindah ketangan pengembang. Kebun langsat menjadi incaran para pengembang untuk dijadikan lahan perumahan. Puluhan developer sudah banyak membangun perumahan yang dahulunya menjadi sentra penghasil langsat. Permintaan perumahan yang terus meningkat tiap tahun nya, membuat Desa Punggur Kecil, Punggur Besar, dan Desa Kalimas padat dengan bangunan perumahan.

Cepat atau lambat, buah langsat akan menghilang dan hanya tinggal cerita. apalagi buah langsat tergolong tanaman buah yang sangat lama untuk berbuah. Butuh sekitar 20 tahun dari masa tanam, untuk memetik buahnya.

*) Abdul Hamid : Ketua Pengurus Koperasi Syariah Mitra Masyarakat

Comments

Popular Posts