TAWADHU’NYA SANTRI KEPADA GURU

Sambutan Pengasuh Ponpes Darun Nasyiin
Pagi ini saya menngantar isteri menghadiri undangan Musyawarah Besar Forum Komunikasi Mahasiswa Darun Nasyiin, sebuah wadah alumni santri pondok pesantren Darun Nasyiin  yang pernah ia geluti semasa kuliah. 
Undangan nya jam 8 pagi, tapi kami datang pas jam 9 karena kesibukan isteri mengurus Wirda. Anak kami yang kini usianya sudah 17 bulan. “Ini telat nampaknya dek. Udah ramai ruangan nya.” kata saya pada isteri. “Ndak,  nampaknya bang. Banyak anak-anak yang masih duduk-duduk di luar” Jawab Isteri.

Benar saja, ketika saya masuk kedalam aula, banyak bangku yang masih kosong. Hanya beberapa baris kursi bagian belakang saja yang penuh. Kursi di bagian depan masih kosong. Saya disambut dengan hangat oleh ustad Abdul Asiz dan beberapa pengurus FKMD. “Kesini bang, duduk di samping bang Subro” Kata Darwis seraya merelakan kursi nya untuk saya tempati.
Sambil menunggu acara di mulai, saya dan Subro terlibat dalam obrolan santai. Dia hari ini diundang secara khusus oleh panitia mubes untuk memaparkan hasil tulisan nya mengenai biografi singkat pendiri pondok pesantren Darun Nasyiin, almarhum KH. Abdus Syakur. “Beliau seorang kiai yang luar bisa menurut saya, penuh karomah dan memiliki sifat tawadhu” Kata bang Subro kepada saya sambil menunjukkan tulisan nya.

Satu jam lebih menunggu, panitia mengumumkan bahwa acara akan dimulai. Pengasuh sedang dalam perjalanan. Begitu instruksi ustad Abdul Asiz kepada petugas pembawa acara (MC). Suasana yang awalnya riuh, berubah menjadi senyap tatkala pembawa acara naik keatas podium. “Yang Kami Hormati, Nyai Nur Qudsiyah.
“Yang kami Hormati KH. Abdul Hamid Sasmito.”
“Yang kami hormati Lora Nofal”
Pembawa acara memberikan salam penghormatan kepada keluarga Pengasuh pesantren satu persatu. Saya berbisik pada bang Subro yang duduk di samping kiri saya. “ Meskipun orangya gak ada, santri tetap takzim dan tawadhu’ kepada gurunya.” Iya. Beginilah akhlak santri.” Balas bang Subro.
Dunia pesantren memang meletakkan akhlak dan  etika sebagai dasar utama dalam kehidupan santrinya. Makanya, tidak mengherankan jika penghormatan santri kepada kiai dan guru begitu besar. Berbeda sekali dengan pelajar yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah umum atau perguruan tinggi.
Saya melihat banyak para pelajar, mahasiswa saat ini sudah bersungguh-sungguh mencari ilmu tetapi tidak menghasilkan “apa-apa” atau tidak memetik “buahnya”. Ilmu yang manfaat (nape’) seakan lenyap dari pendidikan formal.

Lewat pertemuan Mubes FKMDke IV hari ini, saya seolah di ingatkan kembali tentang pentingnya sikap tawadhu’ seorang santri kepada guru. Penghormatan kepada guru tidak hanya sebatas hormat secara fisik, tetapi juga secara ‘ruh’.

Comments

Popular Posts