ORANG MADURA DAN SARUNG

Sarungan, Saat berdilog dengan warga di relokasi SP 2 Mekar Sari
Oleh : Abdul Hamid, SE*)
Seusai solat subuh berjamaah di Masjid dekat rumah, Saya ditanya oleh seorang sahabat saya yang dari suku Melayu.
"Met, Kenapa orang Madura tu, kalau keseharian nya saya lihat sering pakai sarung?" 

Pertanyaan ini dia lontarkan pada saya karena dia tidak sekedar melihat keseharian orang-orang Madura yang tinggal di dekat rumah dia, tetapi dia telah menjelajahi hampir seluruh penjuru Kabupaten Bangkalan Madura saat ia melakukan wisata religi ke Makam Syaichona Holil Bangkalan. Dia banyak berjumpa dengan orang-orang yang keseharian nya memakai sarung. Mulai dari makam, rumah makan, masjid, pasar, terminal, rumah, bahkan orang mengarit ke sawah pun memakai sarung.

Saya tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita pengalaman sahabat saya tersebut tinggal di Bangkalan selama seminggu disuguhi dengan pemandangan sarung dimana-mana.
Ya, kehidupan orang madura memang tidak terlepas dari sarung. Sarung bagi orang Madura bukan sekedar pakaian. Tetapi menjadi identitas yang melekat pada dirinya. Memang tidak bisa kita men-generalisir, karena ada sebagian orang Madura yang memakai celana. Tetapi bolehlah kita katakan bahwa sarung itu identitas kemaduraaan.

Bagi orang Madura, lebih-lebih mereka yang tinggal di pedesaan, sarung menjadi pakaian yang multi fungsi. Kalau musim hujan, sarung bisa dijadikan selimut. Itu karena orang Madura di pedesaan tidurnya setengah melingkar (melekko') seperti udang. Jadi sarung bisa menutupi bagian kaki hingga kepalanya. Bisa juga dipakai saat musim panas karena pemakaian sarung sangat longgar sehingga memungkinkan udara masuk ke sela-sela badannya.

Dipakai pergi ke sawah, karena sarung bisa di gulung hingga lutut sehingga tidak kotor terkena percikan lumpur. Dipakai pergi jalan-jalan karena sarung bisa langsung dijadikan pakain untuk solat kala tengah perjalanan. Bahkan orang Madura yang sudah terbiasa memakai sarung, meskipun memakai celana sering menyelipkan sarung di tasnya. Khawatir celana nya terkena najis, tinggal diganti dengan sarung ketika hendak solat. Sarung adalah salah satu cara bagi orang Madura untuk mengingat kewajiban perintah Tuhan nya.

Orang Madura sudah terbiasa memakai sarung sejak masa anak-anak. Orang tua mereka mulai memperkenalkan sarung ketika sang anak belajar mengaji. Jadi, ketika sang anak sudah beranjak dewasa dan mengenyam pendidikan pesantren, mereka terbiasa dengan pemakaian sarung yang relatif menjadi pakaian ‘wajib’ santri dalam kesehariannya.

Cara pemakaian sarung pun berbeda antara kaum laki-laki dengan perempuan. Bagi kaum laki-laki, pemakaian sarung mula- mula dengan meletakkan tumpal (Setiap sarung biasanya ada tumpal, yakni garis yang berbeda) di belakang. Kemudian menarik sarung keatas, lalu dicepit dengan dagu sambil memastikan jahitan lurus dengan dagu sedangkan kedua tangan melebarkan kain sarung. Lalu kain sarung yang ada di tangan kanan dilipat ke dalam baru kemudian ditutup kain sarung yang ada di tangan kiri atau sebaliknya. Kemudian menggulung kain sarung  dari atas ke bawah.

Pemakaian sarung untuk acara keagamaan seperti dalam solat, tahlilan, ziarah kubur, dan acara Maulid bagi kaum laki-laki di Madura dianggap lebih sopan ketimbang memakai celana. Orang yang memakai sarung dianggap menghargai tuan rumah yang mengundang, meskipun kedua-kedua nya tetap dianggap sebagai tamu yang mesti di hormati.

Comments

Popular Posts