SEMANGAT BERTANI ORANG MADURA DI RELOKASI MADANI

Perempuan Madura di Relokasi Desa Mekar Sari ketika hendak ke Ladang
Oleh Abdul Hamid, SE*)

Banyak sudah yang berubah dari Relokasi Pengungsian Orang Madura di Dusun Madani Desa Mekar Sari Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Perubahan tidak hanya dari infrastuktur jalan menuju dusun Madani, tapi juga bangunan sekolah, masjid dan bentuk rumah-rumah warga yang tinggal disana. 

Lima tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2009 waktu saya berkunjung kesana rumah-rumah warga masih berupa barak-barak pengungsian sebagaimana bangunan rumah yang dibangun oleh pemerintah di tahun 1999. Akses jalan masih berupa jalan tanah yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Itupun jika tidak sedang turun hujan. Kalau hujan turun, sebagaimana yang dialami oleh saya dan teman-teman di tahun 2009 ketika berkunjung kerumah sahabat kami Munif S. Jalanan licin dan berlumpur. Motor terpaksa kami parkir di pinggir jalan desa. Kami berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai ke rumah Munif. 

Sekarang kondisinya sudah berbeda. Tidak perlu jalan kaki untuk sampai ke rumah warga. Jangankan motor, mobil pun sudah bisa sampai ke halaman rumah. Bangunan rumah warga juga sudah berbeda. Dulu dinding dan lantai nya pakai papan. Sekarang, sudah banyak bangunan rumah dinding semen dengan Lantai keramik. Bangunan sekolah dan pondok pesantren menjamur. Bahkan sudah ada sekolah menengah kejuruan yang berdiri megah.

Aktivitas warga kebanyakan di ladang, meskipun ada sebagian yang jadi buruh ke kota. Tetapi kebanyakan orang Madura di relokasi adalah bertani. Pertanian menjadi mata pencaharian utama bagi orang Madura disana. Mereka bercocok tanam  kebutuhan pokok sehari-hari. Seperti padi, jagung, singkong, sayur-sayuran dan buah-buahan. Buah yang menjadi komoditas unggulan Desa Mekar Sari adalah nanas, cempedak dan buah rambutan. 

Orang Madura eks korban kerusuhan 1999 itu memang memiliki etos kerja bertani yang tinggi. Dengan kebesaran hati mereka menjadi seorang petani. Urat-uratnya kuat, tulangnya kokoh, tubuhnya kekar, suaranya tak pernah mengumandangkan rasa penyesalan. Mereka mampu mengolah tanah gambut menjadi tanah yang subur. 

Falsafah orang Madura yang menekankan pentingnya kerja keras sapa atane bakal atana’ (siapa yang bertani, bakal menanam) seperti terpatri pada masyarakat Madura yang tinggal  di Madani. Kondisi alam dengan tanah gambut, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai lahan yang kurang subur di sulap menjadi lahan pertanian produktif. Memang tanah di Madura sendiri juga kurang subur bahkan tandus. Tapi dengan semangat kerja keras dan pantang menyerah saudara mereka juga dapat hidup dari bercocok tanam.  

Tidak banyak lahan tidur yang saya jumpai di Madani. Pekarangan rumah mereka dibuat produktif dengan aneka macam tanaman sayur, buah dan tanaman bumbu dapur. Mau masak sayur tidak usah beli, cukup ambil dari pekarangan. Hasil jagung dan beras sebagian mereka jual sebagian lagi mereka simpan dan dimakan untuk kebutuhan sehari-hari. 

Inilah praktik kemandirian pangan orang Madura. Jika pemerintah masih mewacanakan kemandirian pangan, orang Madura di relokasi Madani sudah melakukannya. Saya masih melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau sebagian orang Madura di Relokasi Madani menyimpan gabah hasil panen dalam karung untuk persediaan makan sampai masa panen berikutnya. 
Semoga semangat bertani orang Madura terus terpelihara. Sebagaimana yang tercermin dalam lagu Madura Pajjar Laggu.
Pjjar laggu arena pon nyonara
Bapa’ tani se tedung pon jaga’a
Ngala’ are’ so landu’ tor capella
Ajalana gi’ sarat kawajibhan
Atatamen mabennyak hasel bumina
Mama’mor nagarana tor bangsana

(terjemahan dalam bahasa Indonesia )
Fajar pagi mataharinya mulai bersinar
Petani yang tidur mulai bangun
Mengambil celurit, cangkul dan topinya
Berjalan atas dasar kewajibannya
Bercocok tanam guna memperbanyak hasil buminya
Memakmurkan Negara dan bangsanya.

Comments

Popular Posts