TRADISI PEGGHENGAN DAN TOPA' SANGOH DALAM MENYAMBUT RAMADAN

Oleh : Abdul Hamid, SE*)
Selamethan merupakan ritual yang akrab dengan kehidupan Masyarakat Madura. selamethan atau dalam bahasa Indonesia nya Selamatan, selalu melekat dalam rangkaian keagamaan masyarakat Madura, baik yang ada di Pulau Madura sendiri atau masyarakat Madura yang ada di tanah rantau.

Banyak moment di dalam penanggalan Madura yang menuntut masyarakatnya untuk melangsungkan ritual selamethan. Seperti halnya ketika masyarakat Madura di Kalimantan Barat menyambut datangnya bulan suci ramadan dengan mengadakan tradisi pegghengan dan katopa' sangoh.

Meggeng yang berarti menahan, atau lebih tepatnya menahan hawa nafsu memiliki tujuan untuk mempersiapkan diri menyambut bulan puasa. Maka secara simbolik ritual pegghengan menandakan bahwa manusia akan memasuki bulan puasa sehingga harus mempersiapkan diri menahan hawa nafsu, baik yang terkait dengan makan dan minum, aktivitas seksual dan hawa nafsu lain selama berpuasa.

Tradisi pegghengan dalam masyarakat Madura memang memiliki kemiripan dengan tradisi Megengan pada masyarakat Jawa.  Kebudayaan Madura memang banyak terpengaruh dengan kebudayaan Jawa baik dalam bidang macopat, alat musik, tari dan bahasa. Sebagaimana kita ketahui bahwa Pulau Madura sendiri berdekatan dengan pulau Jawa, yang oleh banyak pengamat kebudayaan dikatakan terjadi sebuah akulturasi budaya. Namun, Madura tetap memiliki akar kebudayaan tersendiri.  Hal ini bisa kita lihat dari sifat masyarakat Madura sendiri yang cenderung egaliter dan terbuka. Berbeda dengan masyarakat Jawa yang mempunyai sifat ewuh pakewuh.

Tradisi pegghengan yang telah mendarah daging dalam masyarakat Madura dilaksanakan tepat satu hari menjelang puasa ramadan. Pelaksanaan pegghengan pun di masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri. Contohnya pada masyarakat Madura yang berasal dari daerah Sampang, tradisi pegghengan juga dirangkai dengan membuat katopa’ sangoh (ketupat bekal).

Di Kalimantan Barat misalnya bisa kita jumpai pada masyarakat Madura yang tinggal di kelurahan sungai jawi Kota Pontianak. Masing- masing kepala keluarga disana membuat katopa’ sangoh dari janur kelapa yang masih muda kemudian di isi dengan beras dan di rebus hingga masak. Disebut dengan katopa' sangoh karena fungsinya sering dijadikan bekal (sangoh) baik untuk berpergian ataupun bekal makan sahur. 

Meskipun masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri, tradisi pegghengan mempunyai letak kesamaan Ritual. Yakni pada saat aberebbe. Dimana orang yang melaksanakan pegghengan biasanya mengundang tetangga untuk membaca doa selamat di rumahnya. Karena ritual pegghengan hanya berlangsung satu hari maka pembacaan doa biasanya dilakukan berpindah-pindah, yakni dari rumah satu kerumah yang lainnya. Untuk mengantisipasi perebutan massa (undangan) dilakukanlah kompromi antar tuan rumah atau dipisah menjadi beberapa kelompok, jika dalam suatu wilayah banyak keae atau ustad yang pandai memimpin doa.

Hidangan pegghengan berbeda dari rumah ke rumah, bergantung dengan kemampuan ekonominya. Ada yang menyajikan soto, sate, rendang daging sapi, ayam dengan kuah santan, hingga telur ayam dimasak dengan kuah santan. Tuan rumah yang mengundang  biasanya tidak keberatan walaupun hidangan yang disajikan tidak dimakan oleh undangan yang hadir. Yang penting mereka turut duduk membacakan doa.

Masyarakat Madura sengaja menyiapkan masakan yang baik dalam menyambut hari pertama puasa agar mereka bersemangat dalam beribadah. Persiapan fisik dan materi sangat penting sebagai penopang dalam berpuasa seharian. Menjaga kesehatan dengan memperhatikan asupan makanan adalah bagian dari ajaran agama Islam sendiri. Disamping itu, tradisi pegghengan menjadi tarhib ramadan bagi keluarga. Dimana pada saat pegghengan menjadi moment keluarga untuk berkumpul. Anak-anak muda Madura yang tinggal jauh dengan orang tuanya biasanya pulang ke rumahnya. Mereka menyambut hari pertama puasa dengan makan sahur bersama keluarga.

Comments

Popular Posts