Menepis Anggapan Negatif Tentang Musik Sandur Madura

Oleh : Abdul Hamid, SE
Sandur Putra Pamili KalBar
 Sandur sebagai musik tradisional kesenian Madura masih dipersepsikan negatif oleh sebagian masyarakat. Tidak hanya dikalangan masyarakat Kalimantan Barat yang banyak kurang paham terhadap kesenian orang Madura , tapi juga dikalangan masyarakat Madura sendiri. Persepsi orang Madura, kalau ada Musik Sandur berarti sedang ada hajatan  berkumpulnya  orang-orang Blater. Orang- orang Blater sendiri merupakan sebuah julukan pada orang Madura yang pada intinya disebut sebagai orang yang disegani. Penobatan blater pada seseorang bermacam-macam, ada yang menobati karena kewibawaannya, ada pula karena Kabengallah (keberaniannya). 

Maka tak jarang anggapan miring tentang Sandur terus menggelinding, karena dalam sebagian masyarakat Madura sendiri lazim kita jumpai jika ada musik sandur pasti sedang pula berlangsung remoh yang di bumbuhi dengan sabung ayam, pesta minuman keras dan permainan judi lainnya. Jarang sekali kita jumpai musik tradisonal Sandur dijadikan hiburan pengiring kegiatan keagamaan seperti pengajian dan lain sebagainya. 

Sandur sendiri sebetulnya adalah sebuah seni pertunjukan berbentuk teater atau tarian tradisional yang didalam nya mengandung berbagai seni, seperti seni musik, seni tari, seni rupa dan seni sastra. Kesenian ini merupakan bentuk dari kesenian yang mengandung berbagai unsur budaya, yaitu budaya Hindu, Budha, Jawa dan Islam. Hal itu bisa kita buktikan dengan syair- syair yang menggunakan bahasa Jawa kuno, dan Bahasa Madura. 

Dalam syair-syair sandur terdapat nilai kebersamaan, ajaran agama, serta hal-hal yang nantinya menjadi pegangan hidup bagi penikmat dan pendengar musik Sandur itu sendiri. Gambaran ajaran-ajaran yang tersurat dalam tembang Sandur bisa kita perhatikan seperti berikut ini :
Ngaleh Konyi’ taretan ka penggir tase’
Kaju jhetih, Ghebei Nanggeleh
Deddi reng bini’ teretan 
Jhe’ ngalbengal ka selake’ 
Tako’ pagi’ mon mateh tak maso’ suargeh
Dalam bahasa Indonesia : 
Menggali kunyit,saudara, ke pinggir laut
Kayu jati jadikan alat pembajak sawah
Jadi perempuan (istri) jangan berani terhadap suami
Takut nanti kalau mati tidak masuk surga.

Menyimak isi syair pada tembang tersebut ada sebuah pesan yang dapat kita ambil. Isi syair diatas menerangkan tentang seorang istri hendaknya taat kepada suaminya.  Berani kepada suami adalah bagian dari akhlak buruk perempuan Madura. Kelak kalau sudah mati seorang istri yang berani pada suaminya tidak akan masuk ke dalam surga. 

Dalam pandangan orang Madura, Seorang istri yang baik, salah satunya, dilihat dari kemampuannya menghormati dan menghargai suami. Berani kepada suami tidak hanya berupa" menentang perintahnya" atau "membantah nasihat-nasihatnya, berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang isteri. Oleh sebab itu dalam syariat Islam, menetapkan seorang suami memiliki hak yang sangat besar terhadap isterinya, sampai-sampai bila diperkenankan oleh Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memerintahkan seorang istri sujud kepada suaminya.

Banyak sekali syair-syair dalam tembang sandur yang berisikan pesan moral. Lantunan syair-syair tersebut merupakan suatu metode bagaimana cara menyampaikan pesan moral kepada orang Madura yang konon dikenal sebagai masyarakat yang egaliter. Secara moral Sandur juga berfungsi sebagai penyeimbang kemajuan zaman. Perkembangan kemajuan zaman tidak selalu sesuai dengan kehidupan masyarakat Madura. Kearifan masyarakat lokal dalam berseni musik harus dipertahankan. Karena didalamnya terdapat norma-norma kehidupan kolektivitas, wujud dari solidaritas masyarakat berdasarkan kesepakatan yang menjadi hukum tidak tertulis. 

Comments

Popular Posts