TRADISI NYEBUH

Tradisi Nyebuh 
Oleh : Abdul Hamid, SE*)

Bagi orang Madura, selamatan kematian tidak hanya sampai 7 hari. Namun terus berkelanjutan sepanjang keluarga almarhum orang yang meninggal masih hidup. Dan puncak dari rangkaian selamatan kematian orang Madura apabila sampai pada 1.000 (seribu) harinya. Nyebuh atau selamatan setelah orang yang meninggal sampai pada hari ke seribu, boleh dikatakan perayaan yang paling besar. Tradisi nyebuh dianggap perayaan yang paling besar, karena biasanya keluarga yang masih hidup akan mengundang dan didatangi oleh banyak orang disamping peristiwa kematian itu sendiri. 
Orang yang melaksanakan tradisi nyebuh, lazim mengadakan khataman al-qur'an dengan mengundang sanak keluarga, tetangga dan orang yang dianggap fasih dalam membaca al-qur'an. Al-qur'an di baca dengan khatam sebanyak 30 juz. masing-masing orang akan mendapat bagian 1 juz, sehingga dalam khataman al-qur'an diperlukan minimal 30 orang untuk membacanya.
Orang yang diundang untuk membaca al-qur'an sangat diistimewakan oleh tuan rumah yang mengundang. keistimewaan itu bisa kita lihat mulai dari hidangan makanan sampai pada pemberian salabet (uang dalam amplop) yang nilainya bergantung kepada kemampuan ekonomi orang yang mengundang.
Tradisi Nyebuh di salah satu rumah orang Madura Sui Jawi Kota Pontianak


Pelaksanaan prosesi tradisi nyebuh
Tradisi nyebuh biasanya dilaksanakan pada siang hari yakni setelah solat dzuhur atau sesudah solat magrib. Diawali pihak keluarga almarhum orang yang meninggal dengan mengundang sanak famili, tetangga, dan kiai secara lisan untuk menghadiri acara itu yang akan diselenggarakan dirumah duka. Acara baru dimulai apabila orang-orang yang diundang sudah banyak yang datang serta dianggap cukup. 
Tanda-tanda dimulai nya acara biasanya diawali dengan pihak tuan rumah mengeluarkan tumpeng, serta pernak-pernik perlengkapan tradisi. Seperti kue cucur, kue apem, satu ekor ayam panggang dan perlengkapan orang yang meninggal yang ditaruh dalam sebuah nampan besar. Kalau yang meninggal laki-laki, isi nampan nya berupa : sarung, peci, sajadah, payung, tikar, bantal, sandal, kopi, dan semangkuk beras. Jika perempuan isi nampan biasanya berupa ; mukena, sandal, sajadah, payung, tikar, bantal dan semangkuk beras. Konon, isi nampan tersebut memiliki makna sebagai bekal orang yang meninggal  yang kemudian disedekahkan kepada orang yang membacakan doa bagi almarhum. 
Sebagaimana tradisi tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari dan acara haul, tradisi nyebuh dipimpin oleh seorang kiai atau ustad yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh tuan rumah untuk memimpinnya. Dalam tradisi nyebuh, umumnya yang dibaca adalah khataman al-qur'an dilanjutkan dengan tahlil dan pembacaan doa. Adapun bagi keluarga yang meninggal ahli warisnya termasuk orang yang kurang mampu biasanya cukup dengan pembacaan tahlil saja. 

Hidangan dan Tujuannya
Dalam selamatan kematian pada masyarakat Madura, penyajian hidangan selalu ada, tidak terkecuali pada selamatan nyebuh yang dianggap sebagai puncak perayaan kematian. Lauk pauk yang yang disajikan beragam, bergantung kemampuan ekonomi keluarga yang meninggal. Mulai dari sate, rendang, sop daging sapi, hingga ayam dengan kuah santan. Selain itu, biasanya dihidangkan jajanan pasar. Cucur, dodol, dan kue apam hampir tidak pernah absen sebagai simbol sebuah tradisi. 
Tujuan dari pemberian hidangan dalam selamatan kematian adalah untuk menjamu tamu atau menghormati tamu yang hadir. Hal itu sudah menjadi tradisi apabila kita mengadakan selamatan kematian untuk mengucapkan rasa terima kasih itu dengan wujud memberikan hidangan pada waktu acara sudah selesai. Tuan rumah juga memberikan hidangan berkat (berasal dari bahasa arab yakni barokah) untuk dibawa pulang sebagai sedekah tuan rumah. Orang Madura percaya bahwa doa yang dibacakan dan sedekah yang diberikan akan sampai kepada almarhum. 

Comments

Popular Posts