TAJHIN PEDDHIS

Oleh : Abdul Hamid, SE*)
Salah satu tradisi orang Madura yang cukup unik dan tetap terjaga secara turun temurun adalah tradisi Tajhin Peddhis atau sebagian masyarakat menyebutnya dengan Tajhin Sora. Tradisi tajhin peddhis atau jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki arti bubur pedas. Bubur pedas orang Madura berbeda dengan bubur pedas pada umumnya yang dibuat masyarakat Melayu Sambas di Kalimantan Barat. Perbedaan tajhin peddhis dengan bubur pedas khas orang Melayu memang sangat mencolok, Mulai dari bahan baku yang digunakan hingga waktu pembuatan nya. 

Tajhin Peddhis
Jika bubur pedas khas orang Melayu, beras disangrai terlebih dahulu kemudian ditumbuk halus lalu dimasak dengan sayur-sayuran seperti kacang panjang, kangkung, kecambah,  rebung, daun kesum, daun lengkuas, daun kencur dan daun pakis yang cukup dominan, Bubur pedas khas orang Madura tetap dominan beras dengan campuran singkong, ketela, irisan telur yang sudah digoreng, kacang-kacangan  dan sedikit irisan cabai. 

Pembuatan tajhin peddhis juga terbilang cukup unik karena hanya ada dibulan Muharram saja. Tidak bisa kita jumpai di bulan lain. Apalagi dijual di warung atau kantin selayaknya bubur pedas khas orang Melayu Sambas yang bisa dinikmati sepanjang tahun karena sudah menjadi bisnis kuliner terutama di Kalimantan Barat. 

Konon, tradisi tajhin peddhis bermuara pada peristiwa banjir besar di zaman Nabi Nuh. Ketika Nabi Nuh dan kaumnya turun dari kapal mereka merasa kelaparan. Sementara bekal makanan mereka sudah habis, yang tersisa hanya segenggam biji-bijian. Maka Nabi Nuh memerintahkan ummatnya untuk mengumpulkan semua biji-bijian yang tersisa kemudian dimasaknya menjadi semacam bubur. 

Tajhin peddhis yang buat orang Madura tentulah berbeda dengan biji-bijian yang diolah di zaman Nabi Nuh. Namun pada hakikatnya tajhin peddhis yang dibuat oleh orang Madura sebagai tanda syukur dan penolak dari bala'.  Apalagi, kalau kita mengacu pada sejarah Islam, Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Muharram. Diantaranya :
1. Laut Merah terbelah menjadi dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Raja Fir'un.
2. Allah SWT mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan Nun.
3. Nabi Ibrahim diselamatkan oleh Allah dari pembakaran Raja Namrud.
4. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
5. Nabi Ayyub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritanya selama bertahun-tahun. 
6. Nabi Yakub dipulihkan Allah dari penglihatannya yang kabur.
7. Hijrah nya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.
8. Peristiwa Karbala, terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW, yang bernama Sayyidina Hasan dan Husin.
serta masih banyak peristiwa lain yang terjadi di zaman dahulu pada bulan Muharram. Sedemikan banyaknya peristiwa besar yang menimpa para Nabi dan kaum nya di zaman dahulu, maka setiap rumah orang Madura “wajib” membuat Tajhin Peddhis. 

Waktu pelaksanaan tajhin peddhis tidak berlangsung satu hari seperti tradisi bubur suro pada masyarakat Jawa yang dilaksanakan setiap tanggal 10 (hari asyuro). Akan tetapi berlaku selama sebulan penuh di bulan Muharram. Bergantung kapan masing-masing keluarga memiliki keleluasaan waktu untuk membuatnya? 

Tajhin peddhis dibuat tidak sekedar untuk di konsumsi sekeluarga dan kerabatnya, melainkan juga di sedekahkan kepada tetangga terdekatnya. Disinilah dapat kita rasakan sebuah bentuk solidaritas. Sebab dengan pemberian tajhin peddhis ke tetangga (ater) dapat mempererat rasa persaudaraan dan meningkatkan keharmonisan bertetangga. Disamping itu, tentu menjadi penolak bala' karena dengan bersedakah seseorang bisa terhindar dari musibah.  


*) Abdul Hamid, SE : Anggota Devisi Kajian Ekonomi IKBM Kalimantan Barat. 

Comments

Popular Posts