MELESTARIKAN KESENIAN SANDUR

Oleh : Abdul Hamid, S.E

Penampilan Grup Sandur Putra Pamili Pontianak saat Acara IKBM EXPO
Perkembangan  kesenian tradisional Sandur saat ini berada diujung kepunahan. Berbagai problem terus mewarnai liku-liku perjalanan kesenian yang menjadi aset masyarakat Madura dalam menumpahkan segala kreativitasnya yang dimiliki. Perlu diketahui, bahwa sebuah kesenian sandur merupakan warisan budaya lokal yang dirintis oleh nenek moyang orang Madura pada masa lampau, sehingga sampai saat ini masih berkembang dan mewarnai berbagai kesenian tradisional yang ada di Indonesia. Namun, seiring dengan perkembangan kesenian modern yang lebih mapan dan menjanjikan, kesenian tradisional ini mulai redup dalam masyarakat Madura bahkan tidak menutup kemungkinan aset budaya orang Madura tersebut akan sirna.

Satu-satunya Grup/kelompok kesenian Sandur di Kalimantan Barat yang masih bertahan saat ini adalah  Grup Sandur Putra Pamili Pimpinan Haji Sahli yang berada di Pontianak Timur. Grup Sandur Putra Pamili berusaha melestarikan kesenian tradisional asli  khas Madura agar tidak “punah” di kalangan masyarakat madura sendiri. Menurut Haji Sahli,  masyarakat di zaman sekarang sudah melupakan hiburan  kesenian Tradisional terutama Sandur, masyarakat cenderung mencari hiburan dengan hal- hal yang berbau kebarat baratan seperti menonton Lagu Barat, Lagu-lagu korea, dan India . Meskipun sudah  mengetahui keadaan masyarakat sekarang yang kurang berminat pada kesenian tradisional Sandur,  Grup ini masih rutin melakukan pementasan satu kali setiap bulannya dengan sistem arisan. Grup ini mengetahui keadaan masyarakat jaman sekarang sudah melupakan Sandur, tetapi mereka berusaha membuat Sandur agar tetap eksis di kalangan masyarakat.
Tidak terlalu banyak pemain – pemain yang dimiliki oleh Grup Sandur Putra Pamili. Jumlahnya hanya 7 orang yang terdiri dari pemain :
Gendang
Bonang
Penerus
Penunggang
Saron
Peking
Dan Gong
Kebanyakan dari para pemain adalah seniman–seniman senior. Pioner dari kelahiran grup Putra Pamili. Banyak sekali kendala-kendala yang dihadapi seniman – seniman Sandur untuk melakukan regenerasi. Salah satu kendala terbesarnya adalah kurangnya peminat anak muda untuk belajar seni  pertunjukan Sandur karena dianggap tidak memiliki nilai jual.
Kehidupan yang dijalani oleh para pemain - pemain Sandur yang jauh dari kehidupan gemerlapan bintang layaknya pelaku seni yang sering muncul di televisi dan selalu disorot infotainment.  Membuat anak muda enggan untuk belajar sandur. Memang, Kebanyakan para pemain Sandur Putra Pamili adalah pekerja buruh bangunan, kuli pabrik, dan sopir oplet di Kota Pontianak.
Kesenian Tradisional Sandur sendiri, oleh para pemain hanya dijadikan pekerjaan sampingan atau bahkan dijadikan sebagai ajang penyaluran hobi dan rasa cinta pada  Kesenian  Madura. Meskipun begitu,  mereka tetap bermain dengan professional dan tampil bagus di atas panggung.

Upaya Revitalisasi Kesenian Sandur
Ketika kesenian tradisional ini mulai redup, maka sikap kita sebagai generasi muda mesti menemukan solusi-solusi alternatif. Solusi yang paling mungkin dilakukan yaitu dengan merevitalisasi sandur di tengah-tengah kehidupan masyarakat Madura Kalimantan Barat yang hidup dalam multi etnis. Revitalisasi ini, menurut hemat penulis sebagai salah satu langkah primordial untuk kembali membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap kesenian tradisional ini.
IKBM Kalimantan Barat mesti melakukan terobosan baru agar masyarakat tidak meninggalkan kesenian tradisional tersebut. Barangkali dengan terobosan baru itu, banyak generasi muda kembali tertarik menonton Sandur sebagai aset paling berharga masyarakat Madura di Kalbar. Maka, revitalisasi ini perlu dilakukan ke seluruh elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kesenian tradisional.
Strategi untuk merevitalisasi sandur ini adalah dengan : pertama; memberikan nuansa baru dalam setiap pertunjukan yang dilaksanakan. Para pemerhati sandur tentunya harus berupaya melakukan suatu kreativitas dan merealisasikan keinginan penonton yang menjadi penyemangat ketika pentas berlangsung. Diimbangi juga dengan pementasan yang lebih menarik dan membuat penonton terhibur dengan sendiri, sehingga pada gilirannya sepinya penonton seperti yang terjadi dalam IKBM Expo tidak terjadi lagi.
Kedua; membangkitkan interisting generasi muda Madura terhadap sandur. HIMMA (Himpunan Mahasiswa Madura) Sebagai generasi intelektual harus memiliki kepedulian terhadap kesenian tradisional ini, mereka perlu kita tuntut untuk melakukan pengkajian terkait dengan regenerasi dan meredupnya sandur dalam kehidupan masyarakat.

Abdul Hamid*)
Anggota Devisi Pengembangan Ekonomi IKBM Kal-Bar

Comments

Popular Posts